Beranda / Profil Desa / Sejarah Desa
Sejarah Desa

Berdasarkan sumber lokal dan cerita rakyat setempat, Desa Ngadirojo  telah ada sejak masa Kasunanan Surakarta maupun sejak jaman penjajahan Belanda. Sumber lokal dan cerita rakyat mengatakan istilah NGADIROJO berasal dari kata Ngabdi dan RajaNgabdi berarti Tunduk, Patuh, atau sebutan lain Mengabdi kepada Penguasa. Raja berarti Ratu atau Raja. Ngadirojo berarti Dusun yang menjadi abdi dalem pangrehprojo dari Kadipaten Gunung (Boyolali)

Sejarah desa tersebut dapat ditemukan dalam Surat Wito Radyo, Babat Sengkolo Agung, maupun dalam Buku Uritan Kyai Ageng Pandan Arang serta uritan Kyai Ageng Serang.  Dalam buku tersebut dijelaskan Desa Ngadirojo atau pangrehprojo Ngadirojo termasuk Kapunen Ampel dari bawahan Kadipaten Gunung (Boyolali).

Pada masa Pemerintahan Pakubuwono X berdasarkan kekancingan dalem Nomor 73 Tahun 1893, Kapunen Ampel dirubah Istilah menjadi Kapanewon Distrik Ampel, sehingga Pangrehprojo Ngadirojo menjadi bawahan Ampel. Setelah berjalan selama lima tahun Pangrehprojo Ngadirojo oleh penjajah Belanda dijadikan Perkebunan teh dan kopi dan sekaligus menjadi Pusat Pemerintahan Distrik.

Pada Tahun 1898 di Ngadirojo didirikan pabrik penggilingan teh dan kopi. Pada Tahun 1900 Ngadirojo dijadikan wilayah Guberment dengan sebutan Melambong dibawah Kasunanan Surakarta. Pada masa penjajahan Belanda sampai Penjajahan Jepang, Ngadirojo semakin maju dan dikenal dengan adanya perkebunan teh dan kopi. Ngadirojo menjadi pusat industri dan pemerintahan oleh Belanda maupun Jepang.

Masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1930 kepala suku  atau  kepala adat diberi kekuasaan untuk mengatur dusun-dusun atau kampung yang telah ada disekitar lokasi pabrik atau sekitar perkebunan. Pada masa itu istitlah kepala adat disebut bekel. Istilah lainnya  adalah  polo aum atau polo suku . Kepolo Suku memiliki hirarkhi. Pejabat di bawah kepala suku disebut dengan kepala dusun yang pada masa itu disebut dengan Bekel Alit. Bekel Alit membawahi dua atau tiga kampung. Pejabat diatas bekel alit  dinamakan Bekel Gede atau Kamituwo dan atasan dari bekel gede disebut Kepolo Dusun (sekarang disebut sebagai Kepala Desa).

Jika keadaan sekarang pejabat bekel alit sama dengan Ketua RT, bekel gede sama dengan ketua RW dan Kamituwo sama dengan Kadus. Pada masa Penjajahan Jepang sekitar tahun 1940,  Jepang datang di Melambong/Ngadirojo maka pabrik teh dan kopi  yang ada menjadi milik penjajah Jepang.

Pemerintahan berjalan terus sesuai aturan penjajah Jepang. Nama dan istilah pemerintahan disesuaikan dengan nama Jepang. isitilah Bekel diganti dengan istilah Acecok = Bekel = Kepolo Kampung. Istilah  Kamituwo tetap dengan isitilah Kamituwo, sedangkan Kepolo Deso diberi sebutan Gumecok.

Pada Masa Kemerdekaan RI , penjajah Belanda telah pergi  dan penjajah Jepang dilucuti oleh tentara Indonesia. Pada masa Agresi Belanda II, penjajah Belanda Kembali datang ke Melambong dan menguasai kebun teh dan kopi. Para pejuang di Ngadirojo pada tahun 1948 semua pabrik dan perkebunannya di bumi hanguskan serta mendirikan perkampungan warga Pribumi.

Berdasarkan sumber lokal pada Tahun 1946,  Desa Ngadirojo atau dengan sebutan lain Pangrehprojo Ngadirojo diangkat seorang Kepala Desa yang pertama bernama Abdi Projo Wongsorejo, dan sewaktu masa Kepolo Deso Mbah Wongsorejo itu dukuh-dukuh yang baru berdiri dari bekas perkebunan diberi awalan nama Margo yang berarti jalan .

Nama tersebut sampai sekarang masih dipakai oleh nama Dukuh di Ngadirojo seperti : Dukuh Margotomo, Dukuh Margosuci, Dukuh Margosari, Dukuh Margoklaton dan Dukuh Margorejo. Dari data sejarah tersebut maka sejak adanya Kepala Desa yang pertama itulah Desa Ngadirojo akan dijadikan hari ulang tahun Desa Ngadirojo.

Versi lain yang berkembang di warga bahwa hari, tanggal dan tahun dari keberadaan Ngadirojo diambilkan dari Candra Sengkala nama Ngadirojo itu sendiri. Nama Ngadirojo terdiri dari guru wilangan. Guru wilangan adalah jumlah suku kata yang dihitung dari aksara jawa. Kata Ngadirojo berasal dari  tembung Nga = 20; Do=6; Ro=4 dan Djo=3. Dari data Condro sengkolo itulah maka disepakati bahwa hari jadiNgadirojo adalah Tanggal 20 Juni 1934. Tanggal tersebut  diusulkan kepada Bupati Boyolali untuk dikeluarkan Surat Keputusan tentang hari jadi Desa Ngadirojo.